Jasa Besar Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Amankan Taman Nasional Bukit Duabelas

Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwitnbd petasata, dan rekreasi. Kawasan Taman Nasional BukitDuabelas dengan luas 54.780,41 ha ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 4196/Menhut-II/2014 tanggal 10 Juni 2014 di Kabupaten Tebo, Saroalangun,danBatanghari(BTNBD 2015).

Kawasan Taman Nsional Bukit Duabelas mempunyai arti penting bagi kelangsungan Sub DAS Kejasung dan DAS Batanghari yang memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang bernilai tinggi. Potensi-potensi tersebut menjadi sumberdaya alam yang mana dimanfaatkan oleh Orang Rimba untuk keperluan kehidupan sehari-hari.

Luas kawasan jika dibandingkan dengan jumlah personil tenaga pengaman hutan yang ditugaskan oleh pemerintah sangat kurang, sehingga berbagai potensi dalam kawasan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada secara illegal, baik kayu dan non kayu seperti kegiatan perambahan, pembakaran hutan, illegal logging , perburuan satwa, dan tumbuhan. Pemanfaatan potensi secara illegal merupakan ancaman terhadap keutuhan kawasan TN Bukit Duabelas, baik dari masyarakat desa sekitar kawasan dan yang ada di dalam kawasan. Dalam rangka mencegah dan menjaga keutuhan kawasan serta mengembalikan fungsi kawasan, salah satu program prioritas Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dalam melaksanakan kegiatan Perlindungan dan Pengamanan Hutan atara lain operasi Fungsional Pengamanan Hutan. Mengingat luas kawasan yang tidak sebanding dengan personil Polhut yang ada, maka Balai Taman Nasional Bukit Duabelas menggandeng masyarakat dan Orang Rimba sekitar untuk membantu Polisi Kehutanan (Polhut) dalam menjaga keamanan TN Bukit Duabelas dalam bentuk Masyarakat Mitra Polhut. Berdasarkan Keputuasan Kepala Balai Taman Nasional Bukit Duabelas Nomor: SK.12/BTNBD-1/2016 terdapat beberapa uraian tugas Masyarakat Mitra Polhut (MMP), yakni 1)Membantu petugas Polisi Kehutanan dalam pelaksanaan kegiatan patroli pengamanan kawasan hutan 2) membantu petugas polisi kehutanan dalam kegiatan operasi pengamanan kawasan hutan 3)Memberikan informasi kepada petugas tentang terjadinya pelanggaran dan pemadaman kebakaran hutan 4) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga keamanan kawasan hutan.

Taman Nasional Bukit Duabelas terbagi dalam 2 (dua) wilayah kerja, yakni 1) Seksi Pengelolaan Wilayah I Batanghari membawahi 3 (tiga) resort yakni Resort Batin XXIV, Marosebo Ulu I, dan Marosebou Ulu II 2) Seksi Pengelolaan Wilayah II Tebo, membawaahi 3 (tiga) resort yakni Resort Air Hitam I, Air Htam II, dan Muara tabir. Setiap resort masing-masing dibantu tenaga Masyarakat Mitra Polhut

Keutuhan dan kelestarian kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan kewajiban semua pihak, tidak hanya Balai Taman Nasional Bukit Duabelas tetapi jugamasyarakat desa dan Orang Rimba. Khususnya pada Orang Rimba, dimana kawasan TN adalah tempat hidup dan menjadi sumber penghidupan mereka. Hal ini menjadi kelebihan dari MMP yang berasal dari Orang Rimba karena mereka lebih menguasai medan di dalam kawasan, sehingga sangat membantu pelaksanaan Patroli. Hingga tahun 2016, terdapat 4 Orang Rimba menjadi anggota MMP, yakni Nyurau (Resort Batin XXIV), Celitai (Resort Marosebo Ulu I), Silambai (Resort Air Hitam I), dan Ngelambu (Resort Muara Tabir). Semoga keberadaan MMP dari masyarakat dan Orang Rimba ini dapat membantu menjaga keutuhan dan kelestarian kawasan TNBD dimasa datang(Jelita Parapat/TNBD).

Kibar Sang Saka di Taman Nasional Bukit Duabelas (Sekolah Rimba Kejasung)

 

or

Bangsa yang berbudi luhur adalah bangsa yang mengenal, mengingat, dan menghargai sejarahnya. Kehidupan masa lampau menjadi gambaran bagaimana perjuangan para pejuang bangsa untuk mempertahankan negara Indonesia dari penjajah. Kemerdekaan menjadi hak setiap bangsa. Demikian halnya dengan kemerdekaan bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2016. Semua rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan tersebut dimana pun berada.

Pertama kalinya, Sang merah putih dikibarkan oleh anak-anak Rimba yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Anak-anak Rimba tersebut merupakan murid Sekolah Rimba Kejasung binaan dari Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka terlihat antusias mengiringi pengibaran bendera. Seluruh petugas upacara merupakan anak-anak rimba didampingi oleh beberapa orang staff Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Malu, takut, dan ragu terlihat jelas di wajah anak-anak Orang Rimba.

Upacara pengibaran bendera dalam rangka kemerdekaan RI ke-71 ini berjalan dengan lancar hingga selesai. Selain anak-anak Rimba, beberapa orang tua murid juga mengikuti upacara tersebut , mereka ikut berbaris dan mengikuti jalannya acara dengan penuh khidmat. Walaupun hanya dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan kaki beralaskan sandal jepit, tidak mengurangi rasa syukur dan penghormatan mereka terhadap perjuangan para pahlawan untuk mempertahankan tanah air Indonesia.

Terbentuknya sekolah Rimba di TN Bukit Duabelas berangkat dari keprihatinan beberapa staff BTNBD kepada beberapa kelompok tumenggung yang sama sekali belum mendapatkan pendidikan formal. Dengan pendekatan sistem pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan kepada nilai-nilai asli dan kearifan lokal yang berakar pada kehidupan komunitas Orang Rimba. Hal ini bertujuan untuk mendorong Orang Rimba terutama dalam aspek pendidikan dan pengembangan karakter sosial mengalami peningkatan kualitas hidup yang pada akhirnya dapat membuat Orang Rimba bersaing secara fair dengan masyarakat desa hingga dapat menjadi modal bagi komunitas ini untuk mengembangkan potensinya secara mandiri (Jelita Parapat BTNBD)

 

Tentang Taman Nasional Bukit Duabelas

Taman Nasional Bukit Belas meliputi 3 (tiga) Kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Batang Hari, Sarolangun dan Tebo. Meskipun sebagian besar kawasannya merupakan eks HPH tetapi beberapa daerah masih menyisakan hutan-hutan tropis dataran rendah terutama pada zona inti. Pohon-pohon seperti bulian, meranti , ipuh dan tembesu masih dapat dijumpai di kawasan ini.Kekhasan TNBD dibandingkan TN lain di Indonesia adalan tujuan penunjukan TNBD yang salah satunya sebagai sumber hidup dan penghidupan Suku Anak Dalam (SAD), suku lokal provinsi Jambi yang sudah mendiami areal ini sejak lama. Keberadaan SAD menyebabkan zonasi yang khas pula dalam pengelolaan kawasan ini. Beberapa zonasi dikhususkan untuk SAD seperti zona tradisional dan zona religi. Zona religi adalah areal-areal yang digunakan dalam kepercayaan SAD dan tidak boleh diganggu oleh orang luar contohnya pemokomon (pemakaman) dan tanoh peranok’an (tempat melahirkan).

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu 1) melihat keseharian SAD yang masih tinggal di kawasan;2) pohon sialang (penghasil madu) dan cara pemanenannya oleh SAD, 3) Demplot tumbuhan obat yang berisikan koleksi obat-obat tradisonal yang digunakan SAD dan sangat berbeda dengan tanaman obat yang dikenal masyarakat, 3) wisata buah di benuaron (kebun buah SAD) dengan buah-buahan hutan yang bermacam jenisnya; 4) Air terjun (telun); 5) stasiun pengembangan anggrek. Semua kegiatan ini dapat diakses dari Resort Air Hitam I yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari kawasan. Nama Air Hitam sendiri diberikan karena di daerah ini juga terdapat sungai dengan air yang berwarna hitam pekat secara alami sebagai alternatif lain bagi pengunjung untuk wisata di luar kawasan